Kamis, 15 Maret 2012

Mencari Pemain Sepakbola Berbakat Indonesia

IndonesiaMencari Bakat (Sepak Bola)
Jurnal Nasional | Jum'at, 25 Feb 2011
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Tentunya ini bukan tayangan Indonesia Mencari Bakat yang disiarkan oleh Trans TV atau "versi sebenarnya" Indonesia Got Talent yang ditayangkan oleh Indosiar. Saya membayangkan Indonesia Mencari Bakat yang lain. Pastinya yang berkaitan dengan sepak bola. Indonesia Mencari Bakat yang satu ini tentu mirip dengan talent show yang mencari bakat apa saja.
Yang saya cari tidak hanya orang yang sudah jago main bola, entah itu versi lapangan gede atau sekadar futsal. Tetapi, juga sekadar ada anak yang punya bakat sebagian atau tertentu saja bisa saya ambil.
Kalau ada yang bisa lari kenceng kayak maling atau copet, tentu saya masukkan. Saya membutuhkan pelari cepat terutama di sektor sayap. Bek kanan dan kiri serta pemain sayap kanan dan kiri mesti punya lari yang cepat dengan akselerasi yang bagus.
Lari cepat itu berkah. Akselerasi alias bisa dengan cepat dan mudah dapat lari kuenceng itu tambahan. Kalau punya keduanya wah bisa bikin lawan puyeng. Makanya manajer Arsenal Arsene Wenger doyan menarik pemain yang punya lari kencang dan akselerasi yang bagus. Bek sayap macam Ashley Cole bisa bikin lawan pontang-panting menjaganya. Sementara gelandang sayap seperti Theo Walcott juga sulit dihentikan.
Masalah teknik bisa dipelajari. Yang penting untuk mengisi sayap kanan kiri mulai dari bek, gelandang, dan penyerang memang harus orang yang bisa lari cepat. Kalau yang tidak bisa lari bagaimana? Kalau nggak bisa lari maka saya akan menempatkan di tengah. Bukan lantaran pemain tengah nggak perlu lari kencang, tetapi pemain yang bermain di tengah tidak terlalu mementingkan lari yang cepat.
Visi bermain menjadi kunci. Dia bisa melihat pergerakan lawan dan kawan. Kalau menjadi gelandang, dia dapat memberikan umpan terobosan kepada kawan. Atau menghentikan serangan lawan. Pelototi saja permainan Xavi Hernandez. Dia tidak banyak bergerak, tetapi dia pandai mengatur ritme permainan.
Begitu juga menjadi bek tengah. Toh, banyak bek tengah yang buruk dalam lari dan akselerasi. Tetapi, dia jago dalam melihat serangan lawan. Sulit dilewati satu lawan satu, jago memotong umpan lawan. Tengok saja John Terry yang larinya biasa saja.
Kalau ada anak yang punya tinggi di atas rata-rata tinggal memilih jadi kiper, bek tengah, atau penyerang tengah. Tinggi badan menjadi syarat penting, bukan mutlak loh, untuk menempati tiga posisi ini.
Dia bakal dengan mudah memotong umpan dari sayap. Dia mampu berduel dengan penyerang lawan yang pastinya tinggi. Rata-rata di atas 180-185 cm sudah cukup. Begitu juga dengan bek tengah dan penyerang tengah dengan kiper. Kalau kiper dituntut atletis dan punya gerak refleks oke, maka bek tengah dan penyerang tengah harus punya bodi besar untuk beradu fisik.
Tidak perlu berbadan seperti "kulkas dua pintu" alias guedhe banget, ini permainan sepak bola, dan bukan sumo atau judo. Yang penting tinggi, itu saja kuncinya.
Lantas bagaimana dengan pemain bertubuh mini. Toh, kebanyakan orang Indonesia memang nggak tinggi-tinggi amat. Bek sayap, gelandang, pemain sayap, atau penyerang sayap tidak terlalu mensyaratkan pemain tinggi. Yang penting memang lari dan gocek.
Tengok para pemain Barcelona seperti Andres Iniesta, Xavi, dan Lionel Messi. Rata-rata tinggi mereka 165 hingga 170 cm. Nggak jauh beda dengan orang Indonesia, bukan? Hanya bedanya kalau mereka mendapatkan pelatihan yang benar dari akademi La Masia.
Lantas bagaimana dengan anak-anak yang kebetulan punya fisik prima aliasnya napasnya nggak Senen-Kemis? Kalau punya lari oke, ya jadikan saja pemain sayap. Kalau biasa saja, gelandang bertahan yang bertugas sebagai perebut bola juga bisa. Ball winner dibutuhkan dalam sebuah tim seperti Javier Mascherano.
Bagaimana juga dengan anak-anak yang bisanya nangkep bola doang? Kalau tinggi mencukupi, jadikan saja kiper. Toh, banyak juga penjaga gawang dari Eropa yang nggak tinggi-tinggi banget. Iker Casillas tidak lebih dari 185 cm. Toh, banyak kiper di Tanah Air yang tingginya segitu. Bedanya Casillas memang punya bakat dan dilatih.
Bakat apa saja yang bisa berkaitan dengan sepak bola, akan saya tampung dalam Indonesia Mencari Bakat Sepak Bola. Tidak ada yang salah, benar, tidak berbakat, dan lainnya, asal mau dan minat ya monggo untuk unjuk gigi bakatnya.
Nanti saya akan seleksi siapa yang pantas masuk. Setelah itu nanti diajarkan sepak bola oleh pelatih-pelatih kelas dunia mulai dari pelatih tehnik, pelatih fisik, dan juga ahli gizi nutrisi. Secara fisik bisa berkembang, secara teknik makin jago, serta didukung dengan nutrisi yang baik. Kalau sudah begitu akan terbentuk sejumlah pemain yang dirancang untuk menjadi pemain bola beneran.
Saya membayangkan kalau ada ratusan atau bahkan ribuan pemain yang bersaing menjadi kiper, bek, gelandang, dan penyerang yang berlaga entah itu di Liga Super, Liga Primer, atau bahkan di luar negeri.
Saya akan merinding kalau para pemain ini tampil di Piala Dunia 2022 Qatar. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan, seluruh rakyat negeri ini ikut menyanyikan dengan semangat 45 seperti ingin menghantam tentara Belanda zaman dulu. Ah, sayangnya, masih @mimpi.com.
Dodiek Adyttya Dwiwanto


Contact Person :081906218448 

2 komentar:

  1. saya dari kalimantan jauh jauh kejakarta pingin jdi pemain bola help me,posisi saya sayap kiri

    BalasHapus